Connect with us

Hi, what are you looking for?

Berita

Kiai Ma’ruf: Ketahanan Pangan Keluarga Dimulai dari Kesadaran Keberagamaan Pangan

JAKARTA — Ketahanan pangan di level keluarga beberapa waktu terakhir menjadi perhatian karena munculnya fenomena kesadaran stunting. Pemerintah pada tahun 2024, menargetkan menurunkan stunting pada level 14 persen dari yang sekarang 27,6 persen.

“Keluarga sebagai komunitas masyarakat terkecil, memegang peranan penting dalam mendukung pencapaian ketahanan nasional,” ujarnya saat membuka Webinar Nasional Komisi PRK, Senin (03/05) di Jakarta.

Dikatakannya, keluarga terutama ibu, perannya amat diperlukan dalam menyeimbangkan pilihan konsumsi terhadap keluarga. Pilihan makanan yang tidak hanya mengenyangkan namun juga bisa memenuhi gizi. Orang tua juga dituntut kreatif dalam menyediakan keanekaragaman pangan untuk keluarga. Menurutnya, kesadaran keberagamaan pangan adalah jalan paling murah memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

“Contohnya, pemenuhan pangan tidak selalu dari konsumsi beras, namun juga ada konsumsi lain misalnya sagu, jagung, ubi, ketela, kentang, dan sebagainya,” ungkapnya.

Dia mengatakan, Indonesia merupakan negara tropis dengan kekayaan ragam sumberhayati penghasil karbohidrat tinggi. Dia mencatat, ada seratus jenis pangan sumber karbodhidrat, seratus jenis kacang-kancangan, 250 jenis sayur-sayuran, 450 jenis buah-bahan yang tersebar di tanah air.

“Ketahanan keluarga yang kuat tentunya dapat mencegah terjadinya stunting atau kekurangan gizi kronis di awal masa pertumbuhan, yang menyebabkan tubuh anak menjadi pendek, dibandingkan anak lain seusianya,” katanya.

Dia mengatakan, stunting menjadi masalah bangsa karena menyebabkan anak-anak kekurangan kemampuan kognitif. Angka-anak yang terkena stunting juga rentan terhadap penyakit tidak menular dan ketika dewasa produktivitas mereka rendah.

“Dalam jangka panjang, bila tidak ditangani dengan baik, akan merugikan kita sebagai bangsa dan negara,” ujarnya.

Penyebab stunting itu, lanjut Kiai Ma’ruf, karena gizi buruk yang dialami ibu ketika hamil. Maka pada masa mendatang, ibu-ibu dan tentu saja dengan kerjasama suaminya, perlu lebih kreatif dalam mengelola kecukupan gizi dengan disertifikasi konsumsi pertanian.

“Di sinilah diperlukan peran ibu di seluruh Indonesia untuk cerdas, kreatif, berperan meningkatkan ketahanan pangan keluarga. Ini menjadi tugas kita bersama,” ujarnya. (Azhar/Din)

Total Views: 27 ,
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Berita

JAKARTA – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Ekonomi Syariah dan Halal, KH Sholahudin Al-Aiyub menyampaikan bahwa kolaborasi untuk meningkatkan perekonomian sudah difungsikan oleh...

MUI PUSAT

■ Oleh: Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation OPINI, muisulsel.com — Manusia itu lemah. Salah satu kelemahan manusia adalah terbatas oleh banyak batas-batas kemanusiaan itu...

Berita

JAKARTA – Bank Indonesia melakukan upaya mengembangkan sektor ekonomi keuangan syariah bagi kemaslahatan umat. Salah satu caranya melalui pengembangan digitalisasi. Demikian disampaikan oleh Gubernur...

MUI PUSAT

■ Oleh: Dr KH M Asrorun Ni’am MA, Ketua Bidang Fatwa MUI Pusat OPINI, muisulsel.com — Pendidikan karakter pada anak harus sesuai dengan zamanya,...