Connect with us

Hi, what are you looking for?

Berita

Dai Moderat Solusi Menuju Umat Hebat

Oleh Muhammad Bachtiar Efendi

(Mahasiswa PKU Kota Bekasi Angkatan Ke-5)

Dakwah merupakan ajakan dari seseorang kepada orang lain agar dapat berucap, berbuat, dan memiliki kesamaan hati. Kata dakwah sangat sering dirangkaikan dengan kata”Islam”, sehingga menjadi “Dakwah Islam” atau ad-dakwah al-Islamiyah.

Dalam konteks ad-dakwah al-islamiyah, seorang penyeru disebut dengan ad-Dai ilallah wa rasulih, yaitu orang yang mengajak kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukanlah sesuatu yang berlebihan dengan panggilan tersebut. Mengingat, memang tujuan seseorang dalam beragama ialah memahami dan mempraktikkan perintah serta menjauhi larangan Allah SWT dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, seyogyanya para dai benar-benar dapat memahami makna “sebutan” tersebut dengan selalu belajar dan menggali pesan-pesan yang dibawa oleh para pendahulunya yang bermuara pada Nabi Muhammad SAW, Malaikat Jibril AS, hingga Dzat Maha Mulia, yakni Allah SWT., inilah yang disebut dengan mata rantai keilmuan (sanad)

Sufyan at-Tsauri dalam kalamnya mengatakan :

اْلإِسْنَادُ هُوَ سِلاَحُ الْمُؤْمِنِ فَإِذَا لَمْ يَكُنْ مَعَهُ سِلاَحٌ فَبِأَيِّ شَيْءٌ يُقَاتِلُ؟

“Sanad merupakan senjata bagi orang beriman. Maka apabila tidak ada senjata padanya, kemudian dengan apa ia berperang?”

Adapun Abdullah ibn Mubarok berkata :

اْلإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ، لَوْلاَ اْلإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad (mata rantai), pasti siapapun bisa berkata dengan apa yang dia kehendaki.”

Singkatnya ialah bahwa setiap seorang penyeru dengan sebutan ad-Dai ilallah wa rasulih seharusnya tidak berijtihad sesuai keinginannya sendiri tanpa diawali dengan berguru kepada para ulama, baik terlebih dahulu dengan menjadi santri di pondok pesantren atau sebagai jamaah majelis taklim secara rutin dalam waktu yg tidak hanya sesaat dilingkungannya, yang notabene mereka (para ulama) merupakan pewaris Nabi.

Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, Indonesia mendapat anugerah dari Allah SWT dengan adanya peran para dai terdahulu yang berdakwah secara visioner.

Sebagai salah satu contoh dalam dakwahnya Sunan Kudus saat penyembelihan hewan kurban, beliau melarang muslim berkurban dengan memotong sapi -saat itu mayoritas penduduk mempercayai bahwa sapi adalah hewan suci- dengan tujuan agar tidak terjadi konflik antar umat beragama dengan segala sesuatu yang diyakininya, terbukti kini Kudus menjadi tempat dengan sebutan Kota Wali bahkan tidak sedikit para penghafal al-Quran lahir dari kota ini.

Kisah lain dalam dakwahnya Kyai Chudlori, suatu ketika, serombongan warga Tepus, Kecamatan Pakis, Magelang, datang sowan Mbah Chudlori di pondoknya.

Para tamu itu datang bukan hanya untuk silaturahmi. Rupanya ada perbedaan pendapat sengit dari warga terkait pemanfaatan dana kas desa. Ada yang menginginkan untuk membangun masjid, namun sebagian ingin membeli gamelan untuk hiburan warga. Mereka meminta pertimbangan kepada Mbah Chudlori untuk menentukan pilihan.

Saran Kiai Chudlori sungguh di luar dugaan. fatwa berharap agar masyarakat guyub dan rukun. “Kiai Chudlori spontan mengatakan, bahwa yang penting masyarakat guyub, rukun, dan desanya tentram. Untuk itu, Kiai Chudlori menyarankan dana kas tersebut lebih baik untuk membeli gamelan saja,”

Kiai Chudlori mengatakan, ‘Nanti kalau masyarakatnya rukun dan guyub, masjidnya pasti akan berdiri dengan sendirinya’. Akhirnya betul, setelah masyarakat yang menginginkan masjid bisa mengalah (uangnya) untuk beli gamelan, akhirnya belakangan warga kompak lalu gotong royong membangun masjid yang besar,”

Corak dakwah sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Kudus dan Kyai Chudlori diatas dalam bahasa kekinian disebut dengan istilah Dai Moderat (berkecenderungan ke arah dimensi atau jalan tengah), cirinya ialah tidak egois dan mementingkan diri sendiri maupun golongannya serta menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesatuan.

Ditengah masyarakat heterogen, sosok Dai Moderat sangat dibutuhkan untuk mewujudkan Umat Hebat. Sayyidina Ali ibn Abi Thalib dalam nasihatnya menyampaikan :

كُنْ عِنْدَ اللهِ خَيْرَ النَّاسِ وَكُنْ عِنْدَ النَّفْسِ شَرَّ النَّاسِ وَكُنْ عِنْدَ النَّاسِ رَجُلاً مِنَ النَّاسِ

“Jadilah manusia yang paling baik di sisi Allah, dan jadilah manusia yang paling jelek dalam pandangan dirimu, serta jadilah manusia biasa di hadapan orang lain.”

Dai Moderat tidak mudah menyalahkan orang lain, berusahalah untuk selalu merangkul bukan memukul, memperbanyak diri melakukan intropeksi, pandanglah sisi baik orang lain, jauhkan prasangka buruk terhadap siapapun, jadilah solusi bagi umat, dan selalu optimis dalam upaya menyampaikan pesan ilahi dan sabda Nabi, jauhi caci maki, serta tanamkan niat suci agar selalu meraih kemenangan hakiki.

Dengan izin Allah, umat akan meraih predikat hebat. Wallahu a’lam bi showab.

Total Views: 36 ,
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

MUI PUSAT

■ Oleh: Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation OPINI, muisulsel.com — Manusia itu lemah. Salah satu kelemahan manusia adalah terbatas oleh banyak batas-batas kemanusiaan itu...

Berita

JAKARTA – Bank Indonesia melakukan upaya mengembangkan sektor ekonomi keuangan syariah bagi kemaslahatan umat. Salah satu caranya melalui pengembangan digitalisasi. Demikian disampaikan oleh Gubernur...

MUI PUSAT

■ Oleh: Dr KH M Asrorun Ni’am MA, Ketua Bidang Fatwa MUI Pusat OPINI, muisulsel.com — Pendidikan karakter pada anak harus sesuai dengan zamanya,...

Berita

JAKARTA—Menteri Keuangan Republik Indonesia (Menkeu RI), Sri Mulyani, mengatakan negara melalui alokasi APBN di masa Pandemi Covid-19 sangat memperhatikan keuangan sosial Islam dan perlunya...