Connect with us

Hi, what are you looking for?

MUI PUSAT

Masuk Surga dengan Amalan Ringan

Oleh: Asnawin Aminuddin, Komisi Komunikasi dan Informasi MUI Sulsel

OPINI, muisulsel.com — Seorang teman dosen, seorang doktor lulusan perguruan tinggi di Malaysia yang insya Allah beliau seorang ahli shalat dan ahli ibadah, pada suatu hari dalam sebuah pertemuan, bertanya kepada saya.

“Bisakah itu para ustadz, saat ceramah di mimbar, tidak menakut-nakuti jamaah?” tanya teman itu.
“Kenapa ki’ bertanya begitu?” saya balik bertanya dalam Bahasa Indonesia logat Makassar.
“Soalnya, kadang-kadang ada ustadz, kalau ceramah, selalu bicara neraka. Selalu bicara ancaman api neraka. Akhirnya jamaah jadi takut. Kenapa tidak bicara surga, supaya jamaah senang?” katanya.

Saya bilang, bagus juga itu. Saya kemudian membaca-baca dalam Al-Qur’an, dan ternyata cukup banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menganjurkan menyampaikan kabar gembira. Saya menemukan sebanyak 46 ayat dengan kata kunci “kabar gembira.”

Dalam Surah Al-Baqarah, surah ke-2, ayat 25, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”
Pada surah yang sama, Surah Al-Baqarah, ayat 223, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.”

Begitu pula dalam Surah Al-Hajj, surah ke-22, ayat 37, “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Di Surah Al-Ahzab, surah ke-33, ayat 47, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.”

Kabar gembira berikutnya, untuk masuk surga, kita tidak harus shalat lail atau shalat tahajjud setiap malam. Untuk masuk surga, kita tidak harus puasa Senin – Kamis, apalagi Puasa Daud (satu hari puasa, hari berikutnya makan, begitu seterusnya).

Untuk masuk surga, kita tidak harus mengeluarkan uang banyak, tidak harus bersedekah setiap hari atau bersedekah setiap Jumat.

Tidak harus begitu. Melakukan perbuatan kecil yang bermanfaat bagi orang banyak, seperti menyingkirkan gangguan di jalan, atau menyingkirkan batu di jalan yang bisa menyebabkan orang jatuh atau celaka karenanya, itu bisa menjadi penyebab kita masuk surga.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh aku telah melihat seorang laki-laki, mondar-mandir di dalam surga, hanya karena ia menyingkirkan gangguan, sebatang pohon di tengah jalan.” (HR. Muslim)

Penduduk Surga

Anas bin Malik, salah satu sahabat Rasulullah yang juga pernah menjadi pembantunya, mengisahkan, kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda, “Sebentar lagi, akan muncul di hadapan kalian, seorang penduduk surga.”

Baru saja Rasulullah diam dari sabdanya, tampak seorang sahabat Anshar datang, jenggotnya masih basah terkena bekas air wudlu, terlihat tangan kirinya sedang menenteng kedua sandal yang ia punya.

Esok harinya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali mengatakan hal yang sama persis dengan yang kemarin.
“Sebentar lagi, akan muncul di hadapan kalian, seorang penduduk surga,” dan muncul kembali orang dan ciri-ciri yang sama.

Hari ketiga Rasulullah mengulangi ucapan yang sama, “Sebentar lagi, akan muncul di hadapan kalian, seorang penduduk surga,” dan lagi-lagi muncul orang yang sama.

Pada hari ketiga tersebut, usai Rasulullah berdiri meninggalkan majelis, salah seorang sahabat, Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash membuntuti orang Anshar itu, lalu berkata kepadanya, “Aku sedang punya masalah dengan ayahku. Dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Bolehkah aku menginap di rumahmu sampai tiga hari?”

“Oh, silahkan,” jawab lelaki yang dipastikan Rasulullah akan masuk surga ini.
Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash kemudian menginap di rumah lelaki tersebut selama tiga malam. Ia sama sekali tidak melihat sang tuan rumah mengerjakan shalat malam (shalat tahajjud).

Hanya saja, jika ia sedang terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur, maka ia hanya tampak berdzikir kepada Allah dan bertakbir sampai ia bangun untuk menjalankan ibadah salat subuh.

Dalam kisah yang disampaikan Abdullah, ia menyebutkan, “Tidak ada yang istimewa dari lelaki tadi. Hanya saja, aku tidak pernah mendengarnya mengatakan apapun kecuali dengan ucapan yang baik.”
“Dan saat berlalu tiga hari,” kenang Abdullah, “Hampir saja aku meremehkan kegiatan yang dilakukan orang Anshar itu. Maka aku pun terus terang berkata kepadanya. Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya antara aku dan ayahku tidak ada masalah, apalagi hingga memboikot tidak mau datang ke rumahnya, sama sekali tidak.”

Abdullah diam sejenak, kemudian melanjutkan, “Tapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata hingga sebanyak tiga kali, akan muncul di hadapan kalian seorang penduduk surga, lantas engkaulah yang tiba-tiba datang. Hal itu mendorong aku untuk menginap bersamamu supaya aku bisa melihat apa saja amalanmu. Dengan begitu, aku aku bisa menirunya. Namun aku justru tidak melihat dirimu melakukan banyak beramal. Sebenarnya amalan apa yang mengantarkanmu, hingga pada derajat sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, (bahwa kamu min ahlil jannah)?”

Lelaki ini menjawab “Tidak ada yang istimewa dari amalanku kecuali sebagaimana telah engkau lihat.”
Dalam hadits tersebut, Anas bin Malik melanjutkan riwayatnya, Abdullah lalu mengatakan, “Saat aku beranjak pergi maka iapun memanggilku dan berkata, amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun, dan aku tidak pernah hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya.”

Mendapat jawaban memuaskan ini, Abdullah menimpali “Nah, inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga, red). Dan inilah yang kami tidak mampu.” (HR Ahmad : 12236)

Dari beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang memberikan kabar gembira tersebut dan dua sabda Rasulullah, termasuk kisah yang disampaikan Anas bin Malik tersebut, kiranya kita dapat mengambil pelajaran bahwa amalan-amalan yang ringan pun, seperti menyingkirkan gangguan sebatang pohon di tengah jalan, serta selalu menjaga kebersihan hati, dapat mengantarkan kita masuk surga.■

Total Views: 1310 ,
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Berita

JAKARTA — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud menutup rangkaian kegiatan Musyawarah Kerja Nasional (MUKERNAS) kedua MUI dengan mengajak para...

Berita

JAKARTA— Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) ke-2 MUI berjalan dengan lancar dan sukses dengan melahirkan sejumlah rekomendasi penting, salah satunya menyoroti persiapan umat hadapi Pemilu...

Berita

JAKARTA—Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud memberikan penjelasan terkait dengan hasil rekomendasi Mukernas ke-2 yang menyoroti soal pemilu 2024. Kiai...

MUI PUSAT

Surabaya, MUIJatim.or.id Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) II Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 2022 digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta yang dibuka langsung oleh...